Hamas Tegaskan Tidak akan Berhenti Melakukan Perlawanan ke Israel

- 10 Juni 2024, 17:07 WIB
Ilustrasi pasukan Hamas
Ilustrasi pasukan Hamas /Marawatalk/IST/

WARTA PONTIANAK - Pemimpin Hamas Yahya Sinwar secara tegas mengatakan gerakan perlawanan pihaknya tidak akan meletakkan senjatanya dan hanya akan menerima proposal gencatan senjata yang berkomitmen untuk mengakhiri perang secara permanen.

“Hamas tidak akan menyerahkan senjatanya atau menandatangani proposal yang meminta hal itu,” kata Sinwar dalam pesannya.

Baca Juga: Aksi Brutal Israel di Wilayah Rafah Palestina Dikecam Presiden Joko Widodo

Pesan tersebut muncul ketika direktur CIA William Burns kembali ke Qatar untuk melanjutkan perundingan dan mediasi, yang kali ini bertujuan untuk memperkuat proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Presiden AS Joe Biden pada tanggal 31 Mei.

Biden mempresentasikan proposal tersebut dalam pidatonya pekan lalu, dengan mengatakan bahwa Israel telah menawarkannya. Tel Aviv kemudian mengakui bahwa mereka mengizinkan tim negosiasi untuk mempresentasikan rencana tersebut kepada para mediator, tetapi para pejabat sejak itu menekankan bahwa rancangan yang diluncurkan oleh presiden AS itu “tidak lengkap.”

Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu pada hari Senin memastikan bahwa pihaknya tidak akan menyetujui gencatan senjata permanen sampai Hamas dikalahkan. “Perang akan dihentikan untuk tujuan mengembalikan para sandera, dan kemudian kita akan melanjutkan dengan diskusi,” katanya pada hari Senin.

Entitas Zionis ‘Israel’ telah menolak sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB rancangan AS dan ingin diajukan ke pemungutan suara.

Menurut salinan rencana gencatan senjata yang diusulkan AS, diperoleh secara eksklusif oleh Middle East Eye (MEE), inisiatif tersebut tidak mencakup gencatan senjata permanen. Sebaliknya, rencana tersebut menyerukan “penghentian sementara operasi militer” selama 42 hari diikuti oleh negosiasi “terbuka” untuk gencatan senjata permanen.

“Gencatan senjata sementara” berpotensi diperpanjang setelah fase 42 hari “selama negosiasi tentang kondisi tahap kedua dari perjanjian [tersebut] sedang berlangsung,” demikian bunyi dokumen tersebut.

Halaman:

Editor: Faisal Rizal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah