Facebook akan Blokir Fitur Pengenalan Wajah yang Sebut Pria Kulit Hitam sebagai Primata

4 September 2021, 13:50 WIB
Ilustrasi Facebook. /Pexels/

WARTA PONTIANAK - Facebook telah mengumumkan bahwa akan menonaktifkan fitur rekomendasi topik atau pengenalan wajah setelah salah mengira pria kulit hitam sebagai "primata" dalam sebuah video di jejaring sosial.

Seorang juru bicara Facebook menyebutnya sebagai "kesalahan yang jelas tidak dapat diterima" dan mengatakan perangkat lunak rekomendasi yang terlibat dibuat offline.

"Kami meminta maaf kepada siapa pun yang mungkin telah melihat rekomendasi ofensif ini," ujar Facebook dalam menanggapi penyelidikan AFP seperti dikutip dari Aljazeera, Sabtu 4 September 2021.

“Kami menonaktifkan seluruh fitur rekomendasi topik segera setelah kami menyadari hal ini terjadi sehingga kami dapat menyelidiki penyebabnya dan mencegah hal ini terjadi lagi," tambah Facebook.

Baca Juga: Realme GT Master Mulai Dipasarkan di India Hari Ini, Berikut Sekilas Spesifikasinya

Perangkat lunak pengenalan wajah telah dikecam oleh para pembela hak-hak sipil yang menunjukkan masalah dengan akurasi, terutama yang berkaitan dengan orang-orang yang tidak berkulit putih.

Dilansir dari New York Times, pengguna Facebook dalam beberapa hari terakhir yang menonton video tabloid Inggris yang menampilkan pria kulit hitam ditunjukkan prompt yang dibuat secara otomatis menanyakan apakah mereka ingin terus melihat video tentang Primata.

Video yang diunggah pada Juni 2020 yang dipermasalahkan sempat diposting oleh Daily Mail, berjudul, "Pria kulit putih memanggil polisi pada pria kulit hitam di marina".

Sementara, manusia termasuk diantara banyak spesies dalam keluarga primata, video itu tidak ada hubungannya dengan monyet, simpanse, atau gorila.

Baca Juga: Hyundai Staria Resmi Diluncurkan di Indonesia, Desain Eksterior Mirip Pesawat Luar Angkasa

Tangkapan layar dari rekomendasi tersebut dibagikan di Twitter oleh mantan manajer desain konten Facebook Darci Groves.

"Permintaan terus melihat ini tidak dapat diterima," tulis Groves di Twitter yang sepertinya mengarahkan pesan itu ke mantan rekan di Facebook.

“Ini mengerikan," ujarnya.

Seperti diketahui, raksasa media sosial yang didirikan oleh Mark Zuckerberg telah menghadapi beberapa kontroversi dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Poco X3 GT Diluncurkan di Timur Tengah dan Asia, Ini Sekilas Spsifikasinya

Pada tahun 2020, ratusan pengiklan menandatangani kampanye Stop Hate for Profit, yang diselenggarakan oleh kelompok keadilan sosial termasuk Liga Anti Pencemaran Nama Baik (ADL) dan Free Press, untuk menekan Facebook agar mengambil langkah nyata guna memblokir ujaran kebencian dan informasi yang salah. Hal tersebut dilakukan, setelah kematian seorang pria kulit hitam, George Floyd dalam tahanan polisi.

David A Love, seorang jurnalis lepas dan profesor studi media yang berbasis di Philadelphia, juga menuduh bahwa perusahaan Zuckerberg dengan sukarela memungkinkan mendukung kelompok kebencian, nasionalis kulit putih, dan ekstremis sayap kanan.***

Editor: Y. Dody Luber Anton

Sumber: New York Times AFP Aljazeera

Tags

Terkini

Terpopuler